Wednesday, March 26, 2008

Di Sebuah Pasar Malam















Di sebuah pasar malam yang hingar-bingar, seorang anak perempuan mungil terlepas dari genggaman tangan ibunya. Air mata meleleh di wajahnya yang memerah. Bibirnya terkatup rapat. Hanya isakan pelan yang terdengar samar. Dia ingin berteriak, menjerit memanggil ibunya. Tapi, tak kuasa karena ketakutan yang luar biasa. Keringat mengalir di sela-sela telapak tangannya, membuat gula-gula kapas yang digenggamnya lumer.


Sedih sekali rasanya sendirian di tengah keramaian. Komidi putar bergulir kian kencang. Membuat lampu-lampu di sekelilingnya berpendar buram. Mengaburkan pandangan yang sudah tergenang air mata. Beberapa anak laki-laki berkejar-kejaran melewatinya. Tertawa tergelak-gelak. Salah satunya menyenggolnya tanpa kata maaf. Hanya menatap sejenak, kemudian bergegas mengejar temannya. Gadis kecil hanya bisa terisak.


Dia mendengar orang-orang di sekelilingnya berbisik. Dia juga menangkap tatapan mata yang membisu. Tanpa ada yang beranjak menghampirinya. Bahkan, ada pula yang pura-pura tidak melihatnya. Lalu, tergopoh-gopoh menjauh dari dekatnya. Gadis kecil makin kebingungan. Tak tau kepada siapa harus minta pertolongan.


Tiba-tiba seorang nenek renta mendekat. Membungkuk di depan mata si kecil yang sempat terkesiap. Lalu, mengusap air mata yang membanjiri wajah mungil itu. Membasuh tangannya yang lengket terkena gula-gula kapas dengan sapu tangan yang memudar warnanya. Menggenggam tangannya yang dingin dan gemetar. Memberikannya sedikit kepedulian.


Kehangatan membuat gadis kecil merasa tenang. Tangisnya surut perlahan. Si kecil pun tersenyum memamerkan salah satu gigi depannya yang tanggal. Tanpa banyak bicara, mereka duduk di bangku usang di dekat komidi putar. Menunggu ibu si gadis kecil menjemput dan menggandengnya pulang. Kebaikan kecil memang sangat berarti. Sayang, sudah banyak yang melupakannya. Betapa senangnya jika ada yang kembali mengulurkan tangan dan bersedia memberikan sedikit perhatian.


11 comments:

Didiet said...

Dee crita tntng khlangan seorang anak di komedi putar or taman hiburan..Jd trngt masa lalu deh,he3

Juminten said...

cerita yg mengharukan, mbak. :(
jd inget waktu kelas 6 SD dulu sempet nemenin adik kecil (kira2 kelas 1 SD) nungguin org tuanya yg nggak kelupaan menjemputnya di sekolah.
hix hix...

Rezki said...

huwaaaaaaaaa.....dah lama gak ke pasar malam...wuehehe

brainwashed said...

bener, kadang kebaikan kecil dianggap sepele sehingga sering dilupakan. cerita di atas membantu gw mengingat kembali kebaikan2 kecil yang pernah gw terima, thx..it means a lot..

SatoNa said...

waah.. mengharukan banget cc.. >_<

iya yah.. sekarang dah banyak yang ga peduli sama orang-orang di sekitarnya.. pada ga mau repot, ga mo kehilangan waktu kesenengan mereka, dst de.. =(

christi said...

jadi inget pas jln2 di mall ada anak kecil nangis en deketin aku.. krn dia lepas dr ibunya...

Setan Merah said...

Jadi ingat kisah minggu lalu, di simpang BNI- Batam, kurang lebih pukul 18:15.
Entah kenapa gwe langsung terharu, ngeliat gadis kecil cantik menjual koran, mungkin umurnya sekitar 13-an.
Bayangan gwe, anak secantik ini sampai mau jualan mungkin karena keluarganya dah repot banget.
Yg gwe takut, kejamnya kehidupan anak jalanan seperti Jakarta menimpa gadis kecil itu. Moga Allah swt melindungi gadis itu.

avrie said...

duh kucian amat sih tu anak....tp dah ketemu ibunya kan dee....

antown said...

senang kalo kita bisa berbuat baik setiap hari kepada manusia :)

piss

Febra said...

cocok nih jadi penulis novel :cool:

Mama Rafi said...

mengharukan critanya. sendirian ditengah keramaian. yah mg kasus2 begini ga byk terjadi deh, mg msh byk org yg punya hati nurani kyk si nenek yg baik hati itu.

Post a Comment

 
© free template by Blogspot tutorial